September 2, 2026

Kila Tak Sekadar Mendongeng, Ada Bahasa Tidore yang Sedang Ia Selamatkan

Oplus_0

 

 

Jejaringmalut.com, Tidore – Suatu ketika, di sela latihan mendongeng, Sakila A. Tosofu mengajukan pertanyaan sederhana kepada gurunya.

“Ibu, lomba ini untuk apa?”

Pertanyaan itu terdengar biasa saja. Namun, bagi seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengar dan menuturkan bahasa Tidore di rumah, pertanyaan tersebut kelak menemukan jawaban yang jauh lebih besar dari sekadar sebuah perlombaan.

Sakila atau Kila, begitu ia biasa disapa. Bocah ini belum sepenuhnya memahami bahwa bahasa yang dia gunakan dalam keseharian bersama keluarganya memiliki persoalan yang lebih panjang. Ia belum tahu bahwa Bahasa Tidore hingga kini masih tergolong sebagai dialek dari bahasa Ternate.

Yang Kila tahu, bahasa itu adalah bahasa yang ia dengar dari Mama dan Papanya.
Kedua orang tuanya merupakan penutur asli bahasa Tidore. Sebagian hidup mereka dihabiskan sebagai petani.

Dari rumah sederhana itulah Kila mengenal bahasa daerahnya, bukan sebagai pelajaran yang harus dihafalkan, melainkan sebagai bagian dari percakapan sehari-hari.

Tetapi sebagaimana banyak anak seusianya, Kila juga belum mengenal seluruh kekayaan kosakata Bahasa Tidore.

Meski begitu, ada sesuatu yang membuatnya berbeda, Kila tertarik untuk terus belajar dan merasa bangga ketika menggunakan bahasa daerahnya.
Dari sanalah perjalanan Kila menuju panggung lomba mendongeng bermula.

Suatu hari, seorang guru yang juga menjadi Pendamping Bahasa Daerah di sekolahnya, SD Negeri Doyado, memberikan selembar kertas kepada Kila.

Di atas kertas itu tertulis sebuah cerita pendek karya Ryan Khamary berjudul “Putri Toasoninga”.

Judul tersebut bukan sekadar nama tokoh atau cerita. “Toasoninga” berasal dari kosakata bahasa Tidore yang secara harfiah berarti nasihat seorang putri.

Kila kemudian diminta mempelajari cerita itu untuk mengikuti Lomba Mendongeng dalam Bahasa Tidore.

Selembar kertas tersebut perlahan menjadi jalan bagi Kila untuk mengenal lebih jauh bahasa yang selama ini telah hidup di rumahnya.

Kila mulai berlatih. Kalimat demi kalimat dihafalkan. Pengucapan diperbaiki. Intonasi dilatih. Cerita yang semula hanya berupa tulisan di selembar kertas perlahan berubah menjadi suara seorang anak di ruang latihan.

Namun, di sela-sela proses itu, Kila justru melontarkan pertanyaan yang memperlihatkan bahwa ia sedang mencoba memahami sesuatu yang lebih besar.
“Ibu, lomba ini untuk apa?”

Mungkin Kila belum mengetahui seluruh jawabannya saat itu. Tetapi lomba tersebut pada akhirnya bukan semata-mata tentang siapa yang paling baik mendongeng.
Ada bahasa yang sedang dipertaruhkan di balik panggung itu.

Festival Tunas Bahasa Ibu menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan, mempertahankan, dan menghidupkan kembali bahasa daerah di tengah generasi muda.

Bagi Bahasa Tidore, momentum semacam ini menjadi penting. Sebab, di tengah perubahan zaman dan semakin beragamnya bahasa yang digunakan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, bahasa daerah menghadapi tantangan untuk tetap digunakan dan diwariskan.

Kila mungkin belum memahami persoalan kebahasaan itu secara akademis.
Ia hanya seorang siswi sekolah dasar yang sedang belajar mendongeng. Tetapi dari suara kecilnya, ada sebuah pesan yang menjadi penting bahwasanya Bahasa Tidore tidak semestinya hanya tinggal sebagai bahasa yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Ia perlu dituturkan, dipelajari, dan dibanggakan oleh generasi yang akan datang.

Pada titik itulah pertanyaan Kila, “lomba ini untuk apa?” dan dia menemukan maknanya.
Bukan hanya untuk memenangkan perlombaan. Melainkan untuk membuat bahasa yang ia kenal sejak kecil tetap terdengar.

Saat tampil, Kila membuka dongengnya dengan sebuah pantun.

“Gosimo Doyado Cako Tifa Tagi Puji Toma Pasi Ngofa se Dano no lupa ifa Bahasa Tidore Ngone fo Eli”

Empat baris itu terdengar seperti pembuka sebuah dongeng. Tetapi bagi Kila, pantun tersebut juga menjadi semacam pernyataan.
Bahwa Bahasa Tidore adalah bagian dari identitas yang perlu diingat. Bahwa bahasa daerah bukan sesuatu yang harus disembunyikan karena dianggap tertinggal oleh zaman. Dan bahwa generasi muda pun bisa mengambil bagian untuk membuatnya tetap hidup.

Penampilannya kemudian mengantarkan Kila menjadi juara Lomba Mendongeng tingkat Kota Tidore Kepulauan. Kemenangan itu sekaligus membuka pintu berikutnya.

Pada 3 September, Kila akan kembali berdiri di atas panggung, kali ini membawa nama Kota Tidore Kepulauan untuk mengikuti lomba pada tingkat provinsi.

Kemenangan Kila boleh saja diukur melalui piala dan peringkat. Namun, makna yang dibawanya jauh lebih panjang.

Dia tumbuh dari keluarga yang sehari-hari masih mengenalkan bahasa Tidore kepadanya. Ia belajar dari guru di sekolah. Ia membaca cerita yang ditulis dalam bahasa daerah. Lalu, ia berdiri di hadapan orang banyak untuk mengucapkannya kembali.

Rantai kecil itu menunjukkan bagaimana sebuah bahasa dapat diwariskan, bahwa dari rumah, ke sekolah, lalu ke panggung.
Kila mungkin masih terlalu kecil untuk memahami seluruh persoalan tentang keberadaan Bahasa Tidore.

Tetapi justru dari anak-anak seperti Kila, harapan itu bisa tumbuh. Harapan agar bahasa daerah tidak hanya menjadi kenangan orang tua dan kakek-nenek mereka.

Harapan agar anak-anak Tidore kelak tidak merasa asing dengan bahasa leluhurnya sendiri. Dan harapan agar semakin banyak generasi muda yang berani bertutur, belajar, serta merasa bangga menggunakan Bahasa Tidore.

Sebab, pada akhirnya, sebuah bahasa akan tetap hidup bukan hanya karena tercatat dalam buku atau dibicarakan dalam forum kebahasaan. Ia hidup ketika masih ada orang yang menggunakannya. Dan pada 3 September nanti, Kila akan kembali membawa suara itu ke panggung provinsi.

Suara seorang anak dari Doyado.
Suara yang berangkat dari rumah petani.
Suara yang mula-mula hanya ditujukan untuk sebuah lomba mendongeng.
Tetapi kini membawa pesan yang lebih besar

“Bahasa Tidore Ngone fo Eli.” Bahasa Tidore, mari kita tuturkan. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup